/ Sabtu, 05 Mei 2018

Masih Menolak Imunisasi? Coba deh Baca Artikel Ini...


Sebel ngga ngeliat hoax soal imunisasi?. Saya, sih, kesel pake banget, karena dampaknya yang tidak cuma merusak rencana pemerintah untuk memunahkan suatu penyakit dari bumi Indonesia tapi juga dampaknya pada orang-orang yang kurang mengerti dan kemudian malah menjadi korban.

Bayangkan saja, biaya melakukan vaksinasi serentak di Indonesia yang entah berapa banyak, lalu tak berjalan lancar atau kurang berhasil karena ulah orang-orang yang tak bertanggung jawab. Jahat banget, nggak, sih?.

Maaf ya kalo kedengarannya saya nyinyir di postingan ini (sekali-kali aja kok saya begini, hehehe), tapi sebagai ibu beranak tiga saya bisa merasakan betul manfaat imunisasi dan beberapa kali melihat hal menyedihkan yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi.

Beberapa tahun lalu, saat saya masih tinggal di dekat rumah mama di Pondok Cibubur, saya punya tetangga yang perkembangan kakinya tidak sempurna karena terkena polio. Gadis muda itu kurang lebih berumur belasan tahun saat saya mengenalnya. Gadis yang cantik dan ramah, namun jarang sekali keluar rumah karena kakinya yang kecil sebelah dan harus menggunakan bantuan tongkat jika ingin berjalan keluar rumah.

Duhhh, sedihhh banget, apalagi kalau ibu si gadis sudah mulai bercerita tentang betapa dulu sudah segala cara mereka lakukan demi menyembuhkan si anak, dari ke rumah sakit-rumah sakit sampai ke dukun! dan menghabiskan rumah serta tanah mereka di kampung. Ya Allah.. saya nggak akan pernah lupa situasi itu, di mana saya diam-diam meneteskan air mata dan hanya bisa berdoa dalam hati semoga gadis kecil itu tumbuh dengan sehat dan percaya diri terlepas dari kondisi kakinya itu.

Sejak saat itu, saya bertekad untuk memberi vaksin pada anak-anak saya serta memberi informasi kepada orangtua lain tentang pentingnya imunisasi.



SITUASI KESEHATAN ANAK DAN IMUNISASI DI INDONESIA

Bicara soal pentingnya imunisasi pada anak, kebetulan sekali minggu lalu saya hadir di acara Pekan Imunisasi Dunia yang diadakan di kantor IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) di Salemba, Jakarta.

Dalam acara tersebut dikemukakan bahwa imunisasi menyelamatkan jutaan nyawa dan secara luas diakui sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling berhasil dan efektif di dunia. Namun sayangnya masih ada sekitar 19 juta anak di dunia yang tidak divaksinasi atau vaksinnya belum lengkap. Tentu saja hal ini membuat mereka beresiko menderita penyakit-penyakit yang berpotensi mematikan.

Vaksinasi tidak hanya mencegah penderitaan dan kematian yang terkait dengan penyakit menular seperti tbc, diare, campak, pneumonia atau infeksi paru-paru, polio, serta batuk rejan. Vaksinasi juga membantu mendukung prioritas nasional seperti pendidikan dan pembangunan ekonomi, lho ...

Kenapa begitu? menurut saya, dengan berkurangnya penyakit-penyakit menular serta generasi yang makin sehat, tentu saja pemerintah bisa mengalokasikan dananya untuk pendidikan serta pembangunan ekonomi.

Sayangnya, fakta mengenai imunisasi masih kurang baik. Sekitar 19,5 juta bayi di dunia masih melewatkan imunisasi dasar. Sekitar 60% dari anak-anak ini tinggal di 10 negara yaitu Angola, Brazil, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, India, Iraq, Nigeria, Pakistan, Afrika Selatan, dan Indonesia.

Duhh.., ternyata Indonesia merupakan salah satu negara yang masih banyak melewatkan imunisasi, nih. Pada tahun 2014-2016 terdapat lebih dari 1,7 juta anak Indonesia yang belum mendapat imunisasi termasuk yang imunisasinya tidak lengkap. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013 beberapa alasan yang menyebabkan bayi tidak diimunisasi antara lain:
  • Takut panas
  • Keluarga tidak mengizinkan
  • Lokasi imunisasi jauh
  • Sibuk
  • Sering sakit
  • Tidak tahu tempat imunisasi
Nah, disinilah peran kita, sebagai masyarakat yang lebih tahu, untuk menyebarkan informasi tentang pentingnya imunisasi, apa saja yang biasa terjadi paska imunisasi, di mana tempat-tempat imunisasi, dll. Sebagai blogger, saya ingin ikut berpartisipasi menyebarkan informasi penting ini lewat tulisan di blog saya ini, semoga berguna, yaa...

APAKAH VAKSIN AMAN BAGI ANAK?

Dalam kesempatan yang sama, DR.Dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), M.TropPaed, Ketua Komite Nasional Pengkajian dan Penatalaksanaan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas PP KIPI), memaparkan soal pentingnya vaksin bagi anak dan soal keamanan imunisasi itu sendiri.

Di sesi ini saya benar-benar mendengarkan dengan serius karena selain informasinya penting sekali, saya juga ingin mendapat gambaran yang jelas tentang bagaimana sebenarnya keamanan imunisasi itu.

Menurut Dr. Hindra, pembuatan vaksin itu melewati dua tahap yang sangat ketat dan panjang, di mana tahap pertama atau preklinik yaitu riset yang dilakukan di laboratorium dan pada binatang. Termasuk di dalamnya identifikasi dan penemuan antigens, kreasi konsep vaksin, evaluasi khasiat vaksin di laboratorium dan pada binatang.

Berikutnya adalah tahap klinik di mana vaksin diujikan pada manusia. Untuk sampai ke tahap ini diperlukan waktu bertahun-tahun dimulai dari fase I sampai fase IV.  Sebenarnya cukup panjang pokok bahasan soal pembuatan vaksin ini, intinya vaksin sudah melalui tahap yang panjang sehingga bisa dipastikan aman bagi penerimanya.

Selain itu, dr. Hindra juga bicara soal KIPI atau Kejadian Ikutan Paska Imunisasi. KIPI adalah semua kejadian medik yang terjadi setelah imunisasi, yang menjadi perhatian dan diduga berhubungan dnegan imunisasi, bisa berupa gejala, tanda, penyakit atau hasil pemeriksaan laboratorium.

Jadi, jika terjadi KIPI akan ada komite yang melakukan pengkajian untuk penanggulangan laporan khusus yang diduga KIPI. Deteksi dan pelaporan KIPI merupakan langkah awal untuk memperkuat monitoring keamanan vaksin. Dengan meningkatnya keamanan vaksin, keamanan pasien pun pasti juga akan meningkat.

PENTINGNYA IMUNISASI DARI PERSPEKTIF PERLINDUNGAN ANAK DAN AGAMA ISLAM

Seminar tentang imunisasi kali itu makin lengkap dengan dihadirkannya DR.H.M. Asrorun Ni'am Sholeh, MA, yang berbicara soal imunisasi dari perspektif Islam.

Pemerintah sendiri turut memastikan bahwa bahan imunisasi harus aman dan SESUAI DENGAN NORMA AGAMA. Pasal 153 "Pemerintah menjamin ketersediaan bahan imunisasi yang aman, bermutu, efektif, terjangkau, dan merata bagi masyarakat untuk up[aya pengendalian penyakit menular melalui imunisasi."

Pasal 2 UU Kesehatan dengan tegas menyatakan bahwa salah satu asas pembangunan kesehatan adalah NORMA AGAMA. Pembangunan kesehatan harus memperhatikan dan menghormati agama yang dianut masyarakat.

Namun ada pengecualiannya dalam agama Islam, dikatakan bahwa dalam situasi tertentu dimungkinkan mengonsumsi hal yang najis dan diharamkan karena ada tujuan yang lebih besar, mencegah bahaya yang lebih fatal, seperti cacat, sakit parah, hingga kematian.

Hal ini bisa dilihat dari yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Menurut HR. Al-Bukhari, sekelompok orang dari suku Uki atau Urainah datang dan ternyata mereka tidak cocok dengan udara Madinah dan jatuh sakit. Nabi menyarankan orang yang sakit itu diberi susu unta perah dan air kencing unta.

Tahun 2002 ada Fatwa MUI mengenai penggunaan Vaksin Polio Khusus (IPV), dikatakan bahwa pada dasarnya penggunaan obat-obatan termasuk vaksin yang berasal dari benda najis atau tekena benda najis adalah HARAM. Tapi, pemberian vaksin IPV pada anak-anak yang menderita immunocompromise pada saat ini DIBOLEHKAN sepanjang belum ada IPV jenis lain yang berbahan suci dan halal.

Dari hal-hal di atas, harusnya kita sudah merasa tenang dan aman karena pastinya, tidak mungkin pemerintah akan mengijinkan jika imunisasi tidak sesuai dengan norma agama kita.

Sekarang tinggal peran kita di dalam masyarakat untuk saling memberi informasi yang baik agar Indonesia menjadi lebih sehat mencapai imunisasi lengkap dan bersama melindungi dan terlindungi .

*****

Tidak ada komentar :

Posting Komentar