/ Kamis, 03 Mei 2018

Perjalanan Saya Kembali ke Asal di Bali Spirit Festival 2018

Berada di Bali Spirit Festival adalah hadiah saya buat diri sendiri karena sudah berusaha untuk lebih sehat dan bahagia :)

Sekitar dua minggu yang lalu saya mengikuti sebuah festival yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup, Bali Spirit Festival. Tema tahun ini adalah "Return to Source" atau "Kembali ke Asal." 

Kembali ke asal adalah sebuah pengakuan dari kehidupan batin yang terpadu dari semua mahluk hidup, asal dari semua mahluk yang ada di duania, kesadaran yang melihat melalui setaip pasang mata. Keheningan suci yang dapat ditemukan melalui mdeditasi yang bersungguh-sungguh. Musik yang mengalir dari kesadaran yang berpusat pada hati untuk memberkati semua orang yang memiliki telinga untuk mendengar.

Saya ingat sekali betapa senangnya saya saat mba Yuliani, media assistant manager dari Bali Spirit Festival menghubungi saya dan memberi tahu bahwa saya terpilih menjadi official blogger untuk acara tahunan internasional yang sangat bergengsi ini. Wow, saya cinta yoga dan Bali Spirit Festival adalah salah satu festival yoga (tari dan musik) terbesar di dunia. Dan saya akan segera menghadiri acara besar tersebut. Senangggg luar biasaaa...

Salah satu pojok kecil dari lokasi acara yang sangattt luas.

Singkat cerita, saya dan suami pun segera terbang ke Bali. Perjalanan selama kurang lebih delapan hari ini kami bawa santai. Kami hanya membawa dua tas ransel, tanpa koper. Rencananya kami akan membeli pakaian di acara tersebut karena setahu saya, di Bali Spirit Festival juga ada bazaar di mana banyak pakaian dan perlengkapan yoga serta crafts dan makanan dijual. Nggak mungkin rasanya kami melewatkan kesempatan belanja di sana, makanya kami memutuskan hanya membawa sedikit barang saja.

Saat pertama kali menjejakan kaki di lokasi Bali Spirit Festival, di Yayasan Bali Purnati tepatnya, saya terkesima. Tempatnya sangatttt indah, taman tropis yang rapi dipenuhi rimbunnya pepohonan yang bikin saya makin merinding dan terpesona.

Saat itu juga saya bisa merasakan, ini adalah tempat yang sempurna bagi saya untuk ‘kembali ke asal’ kembali dan melihat  ke dalam jiwa saya dan beristirahat dari rutinitas sehari-hari sebagai seorang pekerja, istri, ibu, dll. Saya hanya perlu diam dan menikmati semua yang ada di hadapan saya. I felt blessed!.

I am a member of RAINBOW TRIBE !

Beberapa jam pertama di sana, saya tidak mengikuti kelas atau workshop apa pun, saya hanya berkeliling dan menikmati suasana. Saya menikmati suasana festival sambil makan pastinya, hehehe..
Tempat ini seperti "Kampung Yoga Warna-warni" buat saya dan kami adalah anggota dari suku Suku Pelangi aka Rainbow Tribe, woohooo….

Oh ya, festival ini bukan hanya untuk orang dewasa, lho, saya juga melihat banyak anak-anak menikmati waktunya di sini bersama orangtua mereka. Saat ibu atau bapaknya sibuk dengan yoga, tari, dan musik, anak-anak ini juga punya tempat khusus dengan kegiatan yang tak kalah serunya.


Mereka bisa bermain di lahan yang hijau dan luas, membuat ini itu dari bahan-bahan yang sudah disediakan, semacam DIY dan crafting gitu, deh. Ada face and body painting, dll, dll. Dan mereka ditemani serta dijaga oleh para volunteer yang berpengalaman, jadi orangtua tidak perlu merasa khawatir.

Anak-anak yang sedang ikut melukis.

Bali Spirit Festival memiliki banyak kelas, dari kelas yoga, meditasi, tari, martial arts, healing, sampai seminar. Ada juga kegiatan bazaar yang menjual crafts, suvenir lokal, makanan sehat, pakaian, aksesoris, dll. 

Di hari terakhir ada Hari Komunitas namanya "Hari Cinta Keluarga" di mana warga lokal dan para peserta lainnya dari seluruh dunia dipersilahkan datang dan menikmati acara dengan harga khusus.
Btw, sebelum saya bercerita lebih lanjut lagi tentang festival ini, saya ingin bercerita lagi soal kenapa saya mencintai yoga. Saya sudah latihan yoga mungkin lebih dari 10 tahun berbarengan dengan olahraga-olahraga lainnya seperti zumba dan aerobik. 

Jujur saja, saya suka yoga sebelumnya tapi tidak merasakan bahwa yoga adalah olahraga yang tepat buat saya sampai sekitar dua tahun yang lalu saat saya mengalami rasa sakit yang sangat mengganggu.

Beberapa tahun sejak kelahiran anak ketiga saya, saya mengalami sakit di area perut yang makin lama makin mengganggu dan mengurangi kualitas hidup saya. Sakit di area perut tersebut bisa terjadi selama tiga minggu dalam sebulan!. Artinya saya hanya bisa bernafas lega tanpa rasa sakit hanya selama satu minggu setiap bulannya.

Saya pun mengunjungi dan berkonsultasi dengan beberapa dokter dan hampir semua menyarankan saya untuk melakukan operasi, tidak tanggung-tanggung, saya disarankan operasi angkat rahim jika ingin rasa sakit tersebut hilang untuk selamanya.

Duhh, saya belum siap untuk itu, tapi di sisi lain, rasa sakit juga membuat saya sering tidak konsentrasi melakukan tugas sehari-hari saya. Jika saya tidak mau operasi, dokter menyarankan saya untuk minum pil penahan sakit yang katanya aman meski dikonsumsi sehari-hari. Hell no!, saya tidak ingin tergantung dengan painkillers, jadi saya pun menghapus pilihan itu dari daftar saya.

Saat saya merasa sakit, saya tidak bisa melakukan olahraga seperti lari, zumba, aerobik, dll, yang bisa saya lakukan hanya yoga. Itu pun tidak semua asana atau pose bisa saya lakukan. Saya pun mempraktekan yoga dengan lebih teratur dan hasilnya diluar dugaan saya. 

Dalam satu bulan teratur yoga, rasa sakit saya yang tadinya tiga minggu, berkurang jadi dua minggu saja, lalu makin hari makin berkurang dan saat ini saya hanya merasa sakit di hari pertama menstruasi itu pun tidak selalu dan kalau pun sakit, tidak sesakit sebelumnya.

Ahhh, hidup saya jadi terasa lebih mudah dan lebihhh bahagia…, alhamdulillah…


Jadi, datang ke BSF ini seperti hadiah yang saya berikan buat diri sendiri karena telah menjadi sosok yang lebih sehat dan lebih bahagia. Saya menikmati setiap detik di festival tersebut. Kelas-kelasnya luar biasa sampai-sampai saya sulit memilih mau ikut yang mana. Musik dan arts-nya juga sangat mengagumkan, begitu juga makanan dan minumannya, whoaaa… kehabisan kata-kata buat melukiskannya…

Saya juga bertemu dengan para pengisi acara yang penuh inspirasi. Bukan hanya ramah, mereka pun tak pelit berbagi ilmu dan informasi.

Salah satunya saya bertemu dengan Ebony, seorang wanita yang inspiratif yang mengingatkan saya untuk bersyukur dan makin mencintai diri dan tubuh sendiri. Yoga bukan tentang tubuh sempurna yogini atau asana ini itu. Yoga adalah tentang hidup, kesehatan, keseimbangan antara jiwa dan raga. Latihan yoga harusnya membuat kita lebih bahagia, bukannya malah membenci tubuh sendiri apalagi menghakimi (tubuh) orang lain.

Nanti baca cerita saya tentang Ebony dan  Yoga in Da Hood nya segera di blog ini dan blog sebelah yaaa…  

Sesi Bude Novi

Salah satu workshop favorit saya juga adalah sesi dengan Bude Novi. Di sesinya saya belajar lagi tentang menjadi 'suwung' atau 'ikhlas'. Dia mengajarkan saya untuk lebih ikhlas dalam mengejar mimpi-mimpi saya.  

Musik dan seni juga menjadi sajian utama di festival ini. Yoga dengan musik, tarian dengan musik, band-band lokal dan internasional, kelas membuat craft, melukis, dll non-stop untuk selalu bisa dinikmati oleh para peserta.

Termasuk penampilan musik dan tari dari pelajar lokal yang keren banget dan bikin saya bangga sekaligus terharu. 

Ok, sampe sini dulu ya ceritanya, mudah-mudahan masih sempet lanjutin di artikel-artikel berikutnya.







READ THE ENGLISH VERSION HERE ...

*******

2 komentar :

  1. Dear Zata,
    Boleh tahu gerakan yoga seperti apa yang bisa meminimalisir sakit saat haid itu?
    Aku punya keponakan dengan keluhan yang sama, dan aku ingin sekali menolongnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Ros, hampor semua gerakan bagus kok, tapi dari pengalaman saya dan yang bisa dilakukan sehari-hari adalah semua gerakan Surya Namaskara (uttanasana, adhomukha, warrior 1, dst). Semoga membantu ya mbaa.. Makasih juga udah mampir...

      Hapus